Kalo mau wisata alam dan sejarah, selain mendapatkan pemandangan yang asyik, udara yang segar dari hutan, dan juga mendapatkan pengetahuan sepenggal sejarah negeri ini taman hutan Rakyat Ir. H. Juanda adalah tempat yang cocok.

Untuk menuju lokasi ini melalui Jl. Dago terus lurus   melewati terminal Dago. Kalo keder nanya aja ama tukang ojeg atau orang-orang sekitar, “moal bireuk deui” ( ga ada orang yang tidak tahu) arah Ta Hu Ra Juanda lebih afdol lagi tanya aja arah ke Gua Jepang atau Gua Belanda. Dari arah terminal terus lurus menuju The Peak Dago.   Dari rambu jalan terlihat jelas ada sign Taman Hutan Rakyat , belok kiri terus lurus kira-kira 300 meter di luar terdapat untuk parkiran motor dan mobil.

Tiket masuk murah koq terakhir Rp 7500/ orang ditambah Rp 500 untuk kendaraan motor, Rp 2000 untuk mobil.

Pertama kali masuk suasana alam yang segar mulai terasa, udara yang dingin dan fresh bisa dihirup di tempat sini.  Hutan dan pepohonan rimbun menjadi pemandangan yang bikin mata terasa sejuk.

 

Sejenak jalan kaki berjarak 200 meter dari pintu gerbang terdapat Gua Jepang.

Gua Jepang terletak berdekatan dengan Gua Belanda di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda Bandung dibangun pada tahun 1942.

Gua ini mempunyai lorong 350 meter yang dibangun oleh pribumi melalui kerja paksa atau dikenal dengan ”Romusha”. Gua Jepang dibangun bertujuan sebagai benteng pertahanan tentara Jepang atau disebut juga tentara Dai Nippon.

Saran saya, untuk masuk ke Gua Jepang ditemani oleh  kawan atau  oleh tukang senter dengan sewa senter Rp 6000 sembari melihat-lihat ke dalam gua.  Gua ini terkenal seram,  buat yang punya indera ke enam bisa melihat banyak penampakan yang membuat bulu kuduk merinding. Saya juga  tidak berlama lama berada di dalam gua Jepang. Selain memang amat sangat gelap, aura yang muncul di  Gua Jepang bikin saya kurang nyaman.  Temen saya sih  bilang ada yang nempel dipundaknya dia setelah keluar dari gua….truely creepy dude…..

Hanya 100 meter dari Gua Jepang bisa ditemuin Gua Belanda.

Gua peninggalan Belanda dibangun pada awal tahun 1941 di Dago Bandung. Perbukitan di Dago Pakar menarik perhatian Hindia Belanda tempo dulu untuk menjadikannya sebagai salah satu gudang senjata.

Lokasi gua cukup terlindung dan begitu dekat pusat Kota Bandung. Menjelang Perang Dunia II pada awal 1941, militer Hindia Belanda membangun stasiun radio komunikasi dan memanfaatkannya sebagai tempat penyimpanan mesiu.

Lorong gua kurang dari 100 meter. Di ujung  gua ada jalan tembus menuju  jalan setapak ke arah maribaya.

Buat yang suka jalan kaki masih bisa dilanjutkan ke beberapa tempat wisata lain di TaHuRa Ir. Haji  Juanda seperti beberapa air terjun  di dalam Taman Hutan  Rakyat. Tempatnya ok punya lho.

Dari Tahura bisa tembus juga ke Maribaya. Buat yang pengen cepet nyampe tujuan bisa nyewa ojeg hanya Rp 5000 per orang.

Saran saya kalo pengen jalan kaki sebaiknya dimulai pada pagi hari karena jalur yang ditempuh cukup panjang untuk bisa  sampai di Maribaya. Buat yang suka adventure, kelelahan selama perjalanan terbayar dengan pemandangan yang sejuk, beberapa air terjun yang asri. Very worthed lah dude…..